iklan di pojokbanua

Pilkada Kalsel bakal Banyak Figur Perempuan, Pengamat: Tantangannya Budaya Patriarki

waktu baca 4 menit
Kamis, 23 Mei 2024 22:24 0 Donny Irwan

POJOKBANUA, BANJARMASIN – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kalimantan Selatan (Kalsel) bakal lebih menarik. Pasalnya, pemungutan suara yang dilaksanakan 27 November 2024 mendatang itu bakal diwarnai sejumlah calon kepala daerah perempuan.

Sebut saja yang paling santer kemunculan Istri Gubernur Kalsel Sahbirin Noor, yakni Raudatul Jannah alias Acil Odah. Namanya mencuat bakal maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalsel.

Spanduk dan baliho bergambar perempuan yang saat ini menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kalsel itu menjamur di mana-mana, bahkan hingga ke kampung-kampung dengan bertuliskan Calon Gubernur Kalsel.

Selain Acil Odah, perempuan lain yang mencuat bakal maju di Pilkada adalah Ananda dan Hilyah Aulia. Keduanya bakal maju di Pilwali Banjarmasin.

Tokoh perempuan satu ini pernah maju berkontestasi di Pilkada Kalsel sebagai calon Wali Kota Banjarmasin, lima tahun lalu. Saat itu, ia di Pilwali berpasangan dengan Mushaffa Zakir.

Sedangkan Hilyah adalah Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Banjarmasin. Saat ini, ia menjabat Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin.

Di Ibu Kota Kalsel, yakni Banjarbaru, figur perempuan seolah tak mau kalah di kontestasi Pilwali Banjarbaru. Figur itu adalah Yuti Mahrita. Ia Ketua DPD Perempuan Indonesia Raya (Pira) Kalsel dari Partai Gerindra.

Nama Yuti termasuk dalam daftar kader Gerindra yang mengantongi rekomendasi maju Pilwali Banjarbaru dari DPD Gerindra Kalsel. Selain itu, Yuti juga telah mendapat rekomendasi langsung dari Ketua PP PIRA, Sumarti Arjoso untuk maju di Pilkada 2024.

Sebagai kader dari partai besutan Prabowo Subianto, tampaknya Yuti ingin mencitrakan dirinya sebagai calon kepala daerah yang gemoy. Itu terlihat pada salah satu baliho bando di Jalan A Yani, Kilometer 31,5, Banjarbaru. Di sana terpampang wajah Yuti dalam bentuk animasi dengan tulisan Ibu Gemoy.

Keseriusan Yuti bakal maju di Pilwali Banjarbaru juga terlihat pada sowannya ke sejumlah partai politik (parpol) setempat, yakni PPP, PKB dan PDI Perjuangan.

Selain Yuti, nama lain yang mencuat adalah Erna Lisa Halaby. Ia adalah seorang PNS di Pemerintah Kota Banjarbaru. Meski bukan kader parpol, namun ia yakin ada Parpol yang akan mengusungnya.

Di Kabupaten Tanah Laut (Tala), figur perempuan juga ada yang menyatakan diri siap untuk maju di Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tala. Dia adalah Ketua DPC PKB Tala, Endang Isnawangsih.

Kemudian di wilayah penghujung Kalsel, yakni Kotabaru, figur perempuan yang ingin maju pada Pilkada di Bumi Saijaan itu adalah Istri Bupati Kotabaru Sayed Jafar yakni Fatma Idiana. Ia ingin maju bersaing sebagai bakal calon Bupati Kotabaru.

Mencuatnya sejumlah nama figur perempuan bakal maju di Pilkada Kalsel ini menjadi perhatian pengamat. Menurut akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Farid Nofiard, masyarakat harus bisa memandang kesetaraan gender para calon dalam kontestasi Pilkada Kalsel nanti.

Artinya, jelas Farid, setiap calon laki-laki ataupun perempuan harus benar-benar dipandang setara.

“Selama bisa mewakili aspirasi dan bisa memberi solusi untuk masyarakat, kepemimpinan perempuan tidak perlu dipertanyakan,” kata pengamat politik itu kepada pojokbanua.com, Kamis (23/5/2024).

Dosen Studi Ilmu Pemerintahan FISIP ULM itu menekankan, isu kesetaraan gender pada Pilkada Kalsel harus benar-benar dipahami masyarakat. Dia menilai, kondisi sosial dan politik di Kalsel sangat patriarki. Budaya masyarakat menginginkan figur pria mendominasi dalam peran kepemimpinan politik masih kental.

“Kalau di Kalsel ini kan budaya patriarki masih kental. Jadi, harus ada usaha ekstra bagi politikus perempuan meyakinkan masyarakat bahwa mereka bisa bersaing dan mampu setara dengan pria,” ujarnya.

Farid menyebut, budaya patriarki ini terlebih bagi masyarakat konservatif menjadi tantangan terbesar bagi figur perempuan bersaing di kontestasi Pillada Kalsel. Namun dalam kondisi demikian, calon kepala daerah pria jangan jumawa bersaing dengan tokoh perempuan. Sebab, jika tokoh perempuan itu memiliki rekam jejak baik dan kemapanan logistik yang banyak, peluangnya bersaing dengan tokoh pria akan sangat terbuka.

Magister Ilmu Pemerintahan itu berharap, masyarakat lebih melihat karakteristiknya dalam menentukan pilihan pemimpin.

“Pemimpin yang baik adalah yang paling baik mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan memberikan solusi yg paling efektif untuk kebutuhan. Dalam memilih pemimpin itu, standarnya adalah karakteristik pemimpin, bukan jenis kelamin,” tutupnya. (DN/KW)

Editor: Yuliandri Kusuma Wardani

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

1. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221229-WA0030
IMG-20221228-WA0020
2. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221225-WA0006
IMG-20221227-WA0005
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
TIPS AMANKAN DATA

Member JMSI

Network

LAINNYA