iklan di pojokbanua

Studi Banding ke BKSDA Kalsel, Tim Ekososlab IHI Beri Rekomendasi

waktu baca 4 menit
Selasa, 5 Des 2023 07:52 0 Muhammad Hidayatullah

POJOKBANUA, BANJARBARU – Tim Laboratorium Keadilan Sosial dan Ekologis (Ekososlab) Institut Hijau Indonesia (IHI) melakukan studi banding ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan (Kalsel).

Selama lima hari, mereka melakukan studi lapang, diskusi dan pengamatan beberapa lokasi fokus, diantaranya Hutan Lindung (HL) Tebing Siring, Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak, Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut. Usai ekspose studi lapang, sejumlah rekomendasi pun turut diberikan.

Koordinator Tim Ekososlab IHI, M Justi Makmun Jusrin menyampaikan, ada tiga pilar utama yang menjadi fokus perhatian, yakni aspek sosial, ekonomi, serta ekologi. Setelah melakukan diskusi dengan masyarakat dan melihat langsung, pihaknya menilai ada yang mendapatkan dampak dari segi ekowisata, lapangan kerja baru, peningkatan hasil laut, penjualan bibit, hingga menuai hasil dari tanaman.

Kemudian, dalam aspek sosial pihaknya melihat terdapat sinergi dari aktor-aktor lokal dan pemerintah. Namun, mereka belum melihat keterlibatan dari segi gender baik dari ibu-ibu, serta generasi muda. Untuk di SM Kuala Lupak, petani ada menyampaikan keinginan peningkatan dan pendampingan tindak lanjut dari hasil lau, sedangkan dari TWA Pulau Bakut masyarakat juga perlu pendampingan untuk kesiapan saat dibuka kembali dan menghadapi pengunjung yang cukup banyak.

”Dalam pengembangan ini kita lihat ada yang berdasarkan kesadaran masyarakat, berdasarkan konflik, adapula berdasarkan kewajiban masyarakat untuk memperbaiki kawasan. Lewat pendekatan persuasif yang cukup instens, BKSDA Kalsel berhasil meningkatkan aspek sosial ini,” paparnya, saat melakukan ekspose hasil studi banding di Kantor BKSDA Kalsel, Senin (4/12/2023).

Justi menjelaskan, dari segi ekologi pihaknya melihat banyak masyarakat mengatakan mangrove ini dapat menahan ombak. Adajuga menyebutkan menjadi sumber peningkatan nilai dari pendapatan masyarakat, karena terdapat peningkatan dari hasil biota laut. Begitu pula banjir rob yang pernah terjadi dapat ditangkal dengan adanya mangrove ini.

Selanjutnya, pihaknya pun turut memberikan sejumlah rekomendasi dari hasil studi lapang itu. Diantaranya, pihaknya menyarankan kepada BKSDA Kalsel secara berkala dan bergantian dapat mengundang komunitas lingkungan, organisasi muda untuk belajar di alam, terutama untuk wilayah yang telah dikunjungi mereka.

“Ada potensi besar yang kami lihat, jika bisa dilibatkan minimalkan dalam satu bulan sekali diajak komunitas-komunitas bagaimana caranya kita mengatur permasalahan dari sosial ekonomi ataupun jasa lingkungan yang ada disana. Hal itu sepertinya akan lebih meningkatkan kesadaran masyarakat,” sarannya.

Menurutnya, sosialisasi dan pendampingan masih sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran anak muda dalam upaya pelestarian kawasan melalui skema perhutanan sosial. Serta, turut juga diperlukan papan interpretasi untuk penjelasan flora fauna yang ada di setiap lokasi.

“Papan informasi yang lebih lengkap dengan menggunakan barcode. Jadi pengunjung bisa melakukan scan dan melihat langsung penjelasan lengkap terkait flora dan faunda yang ada disana. Ini sebagai sarana edukasi,” paparnya.

Justi menyebut, formasi mangrove dapat dibentuk agar kelestarian dan heterogenitas flora dan fauna dapat meningkat.

Tak lupa pula pelatihan kepada masyarakat mitra terhadap kesiapan dalam mengelola kawasan baik dari segi wisata, pengolahan produk lanjutan UMKM, dan lain sebagainya.

“Untuk TWA Pulau Bakut kita lihat masyarakat sempat vakum karena pandemi Covid-19. Sehingga tetap perlu ada pendampingan untuk mereka,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi menyambut baik kehadiran Tim Ekososlab IHI dalam melakukan studi banding ini. Ia mengaku sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan mereka ini dan menganggap suatu kebanggaan, serta mendukung berbagai kegiatannya di Kalsel.

Mahrus memaparkan, Kalsel sendiri mempunyai luas khusus kawasan konservasi sekitar 95 ribu hektare yang tersebar di tiga kantor seksi yakni Pelaihari, Banjarbaru dan Tanah Bumbu. Setidaknya pasca tim turun ke lapangan bisa mendapatkan sekitar 70 persen data yang diperlukan. Ia pun mencoba melengkapi kekurangannya.

Ia menjelaskan, perhutanan sosial dalam kawasan konservasi itu namanya kemitraan konservasi. Lalu dalam hutan lindung itu ada dua, yakni hutan kemasyarakatan dan hutan desa.

“Memposisikan fungsi kawasan itu sangat penting karena berbeda fungsi. Kalau hutan lindung kita penekanannya lebih kepada tata air, mengendalikan erosi, sumber oksigen. Sedangkan hutan konservasi kita lebih kepada rantai makanan,” paparnya.

Terkait aspek sosial dan ekologi, kata Mahrus, kalau sosial itu kita bisa melihat dari sisi kekerabatan, pola kerja dan pola kepemimpinan. Sedangkan ekologi, lebih kepada mengurangi erosi, menghasilkan oksigen, mengatur tata air seperti yang ada di Tebing Siring.

Bagi Mahrus, keberhasilan sebuah kelompok itu sangat diperlukan adanya local champion, yakni seseorang yang memiliki inisiatif, kemampuan dan kapabilitas untuk mendorong proses perubahan dalam suatu masyarakat. Hal itulah yang menjadi kunci dalam kemitraan yang dijalankan BKSDA Kalsel, tak terkecuali juga mencoba melibatkan generasi muda.

Sedangkan untuk keterlibatan gender, para perempuan khususnya ibu-ibu juga turut diberdayakan saat melangsungkan persemian, karena mereka dinilai lebih rapi dan cekatan dalam melakukan itu.

“Melibatkan orang-orang muda memang sangat penting. Karena, merekalah yang nanti memegang puncak pimpinan ke depan. Untuk itu, kami tentu selalu berupaya untuk mendukung segala kegiatan yang terkait lingkungan dan kehutanan untuk generasi muda tersebut,” lugasnya. (MH/FN)

Editor: Gusti Fikri Izzudin Noor

Muhammad Hidayatullah

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

PENJUALAN ROKOK BATANGAN
IMG-20221229-WA0030
IMG-20221228-WA0020
1. Infografis sosmed 10 penyakit
TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221225-WA0006
IMG-20221227-WA0005
2. Infografis sosmed 10 penyakit

Member JMSI

Network

LAINNYA