iklan di pojokbanua

Salah Satu Ritual Haji, Kemana Batu Bekas Lempar Jumrah?

waktu baca 3 menit
Minggu, 9 Jul 2023 11:38 0 Fikri Noor

POJOKBANUA, JAKARTA – Salah satu ritual ibadah haji yakni lempar jumrah. Aktivitas lempar jumrah atau lontar jumrah ini yakni jemaah haji melemparkan kerikil ke tiga tiang yang berada dalam satu tempat bernama Jamarat, di Mina yang terletak sebelah timur Mekkah, Arab Saudi.

Jumlah kerikil yang dilemparkan bisa mencapat ribuan bahkan mungkin jutaan banyaknya. Mengingat setiap jemaah melemparkan 7 kerikil.

Namun kemudian muncul pertanyaan, kemana batu bekas lempar jumrah? Apakah dibiarkan menumpuk begitu saja atau ada yang dilakukan pada kerikil-kerikil tersebut?

Saudi Press Agency (SPA) mengungkapkan prosedur yang diterapkan pada kerikil-kerikil lempar jumrah yang begitu banyak itu. Salah satu karyawan perusahaan Kedana, yang merupakan pengelola dan pengembang utama situs suci tersebut, mengungkapkan kepada SPA bahwa kerikil-kerikil itu langsung dikumpulkan setelah jemaah menyelesaikan ritual lempar jumrah.

“Kerikil akan jatuh secara vertikal ke bawah dan menetap di ruang bawah tanah fasilitas Jamarat. Kerikil akan terkumpul di kedalaman 15 meter di tiga pilar,” kata E. Ahmed Al-Subhi kepada Saudi Gazette, seperti dikutip dari detik.com, Minggu (9/7/2023).

Setelah itu, akan ada mesin seperti ban berjalan yang mengumpulkan batu-batu yang dilempar jemaah, kemudian dilakukan proses pengayakan dan penyemprotan dengan air untuk menghilangkan debu dan kotoran yang menempel di batu tersebut. Setelah itu, kerikil dipindahkan ke kendaraan dan disimpan untuk digunakan di musim haji berikutnya.

Al-Subhi membenarkan bahwa jumlah kerikil sudah disesuaikan dengan jumlah jemaah. Di sisi lain, sebagai bagian dari penataan dan pengelolaan kerikil jumrah, ada perusahaan lain bernama Hadiyah-Haji dan Karunia Mu’tamer yang bekerja sama dengan Kedana yang menerapkan inisiatif melayani para jemaah.

Organisasi tersebut menyediakan lebih dari 80 ribu kantong kerikil untuk dilemparkan ke Jamarat, dan telah didistribusikan di 300 titik kontak bagi jemaah di jalur pejalan kaki di Muzdalifah, selain yang ada di fasilitas Jembatan Jamarat di Mina. Inisiatif organisasi ini dilakukan dengan pengawasan langsung dari Kedana, dan bertujuan meringankan para peziarah selama melakukan ritual mereka.

Saat ritual lempar jumrah, setiap jemaah haji diharuskan mengumpulkan tujuh butir kerikil untuk melemparkannya ke setiap tiang di Jamarat. Ada tiga tugu untuk melempar jumrah yakni Ula, Wustha, dan Aqabah. Masing-masing tiang tersebut memiliki jarak antara 200 meter hingga 250 meter. Tiang ini penanda tempat munculnya setan yang lantas dilempar kerikil oleh Nabi Ibrahim AS.

Ritual ini tak sekadar melempar kerikil asal mengenai tiang, melainkan sebagai simbolisasi umat Islam yang melakukan ibadah haji dalam melawan setan. Makna dari melempar jumrah adalah setan dapat merasa sakit dan terhina apabila seorang mukmin mengingat Allah dan menjalankan perintah-Nya. Karenanya, saat lempar jumrah, jemaah terus menyebut dan mengingat kuasa Allah SWT. (Detikcom/FN)

Editor: Gusti Fikri Izzudin Noor

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

IMG-20221229-WA0030
IMG-20221228-WA0020
TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221225-WA0006
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
1. Infografis sosmed 10 penyakit
2. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221227-WA0005

Member JMSI

Network

LAINNYA