iklan di pojokbanua

Penyelamatan Satwa Konflik, 8 Ekor Bekantan Dilepasliarkan di Batola

waktu baca 2 menit
Kamis, 25 Mei 2023 14:42 0 Muhammad Hidayatullah

POJOKBANUA, MARABAHAN – Sebanyak 8 ekor bekantan hasil penyelamatan satwa dilepasliarkan BKSDA Kalimantan Selatan (Kalsel) di kawasan suaka margasatwa Pulau Kaget, Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Rabu (10/5/2023) lalu.

Lokasi tersebut merupakan salah satu kawasan Konservasi yang merupakan habitat alami bekantan. Sebelumnya, delapan bekantan itu berasal dari kegiatan penyelamatan satwa konflik di Desa Mekarsari, Kecamatan Tamban, Kabupaten Batola beberapa waktu lalu.

Semua bekantan itu juga telah dipastikan kondisinya melewati sejumlah pemeriksaan kesehatan dan pemantauan, serta dinyatakan sehat dan siap untuk dikembalikan ke habitatnya.

Berdasarkan data BKSDA Kalsel tahun 2022, terdapat sebanyak 41 laporan konflik bekantan dengan manusia. Penyelamatannya pun menjadi salah satu fokus yang pihaknya lakukan untuk menyelamatkan satwa dari ancaman kepunahan.

“Penyebab banyaknya konflik bekantan ini karena adanya alih fungsi habitat bekantan menjadi peruntukan lain. Sehingga, ruang gerak bekantan bersinggungan dengan aktifitas manusia dan akhirnya menimbulkan konflik antara satwa tersebut dengan manusia. Semua laporan tersebut telah ditindaklanjuti dan satwa berhasil diselamatkan,” ujar Kepala BKSDA Kalsel, Mahrus Aryadi, Kamis (25/5/2023).

Lebih lanjut, suaka margasatwa Pulau Kaget ini merupakan kawasan konservasi yang menjadi salah satu habitat bekantan yang ada di Kalsel. Wilayah ini memiliki ekositem bakau, yang menyediakan pakan, dengan dominasi jenis Sonneratia caseolaris (rambai) sebagai pakan utamanya.

“Kawasan dengan luas 63,6 hektar ini, berdasarkan hasil pemantauan populasi tahun 2022 memiliki jumlah populasi 90 ekor, sehingga masih memunginkan dijadikan sebagai lokasi pelepasliaran,” tambahnya.

Terkait populasi bekantan saat ini, dari data yang dimiliki BKSDA Kalsel per tahun 2022, terdapat sebanyak 3.508 ekor. Sejak 5 tahun terakhir hasil pantauan pihaknya, populasi bekantan mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebanyak 7,78 persen.

Di samping itu, bekantan juga merupakan maskot Kalsel dan merupakan satwa endemik Borneo yang dilindungi Undang-Undang. Keberadaan bekantan di Kalsel sendiri, berkisar antara 60-70 persen yang berada di luar kawasan konservasi.

“Sehingga, habitatnya rentan untuk berubah fungsi menjadi peruntukan lain. Untuk itu, diperlukan keterlibatan semua pihak guna mendukung program konservasi satwa dilindungi ini,” bebernya.

Mahrus menuturkan, bekantan menjadi salah satu dari 25 satwa prioritas nasional yang rutin dipantau dan ditargetkan meningkat populasinya sebesar 2 persen.

“Dengan dikembalikannya kedelapan satwa ini ke habitatnya, harapannya satwa dapat beradaptasi dan berkembangbiak sehingga kelestarian populasinya dapat dijaga,” harapnya.

Dalam pelepasliaran 8 ekor bekantan itu melibatkan Taman Safari Indonesia, yang turut membantu mulai dari kegiatan penyelamatan di lapangan, pemeriksaan kesehatan hingga pelepasliaran satwa. (MH/FN)

Editor: Gusti Fikri Izzudin Noor

Muhammad Hidayatullah

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

PENJUALAN ROKOK BATANGAN
IMG-20221227-WA0005
TIPS AMANKAN DATA
2. Infografis sosmed 10 penyakit
1. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221225-WA0006
IMG-20221228-WA0020
IMG-20221229-WA0030

Member JMSI

Network

LAINNYA