iklan di pojokbanua

Pasar Wadai di Martapura Sepi Pembeli, Dewan Minta Pemerintah Evaluasi

waktu baca 2 menit
Minggu, 10 Apr 2022 05:18 0 Wahyu Firdha

POJOKBANUA, MARTAPURA – Menjelang seminggu Ramadan, pasar wadai di Jalan Kenanga, tepatnya samping Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ratu Zalecha Martapura, Kabupaten Banjar mulai sepi pembeli, Sabtu (9/4/2022).

Terpantau pojokbanua.com, hingga pukul 17.38 Wita, pembeli masih nampak sepi. Tak seperti hari pembukaan puasa. Bahkan, berbagai macam makanan siap saji milik pedagang pun masih banyak tersusun di atas meja. Sedangkan sebagian pedagang lainnya, memilih menutup dagangannya lebih awal dan berpindah ke tempat lain hingga sejumlah stand tampak kosong.

Menerima informasi keluhan pedagang tersebut, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banjar, HM Rofiqi langsung mengunjungi pasar wadai tersebut.

Saat tiba di lokasi, dirinya langsung disambut gembira oleh para pedagang. Kemudian, membeli makanan pada beberapa pedagang untuk dibagikan kembali ke masyarakat sekitar.

“Kalau menurut saya, ini menyedihkan. Jam sudah menunjukkan jam 6 sore, tapi sedikit sekali pengunjungnya,” ungkapnya.

Menurutnya, penutupan jalan untuk pasar wadai ini dianggap salah konsep dan keliru. “Bagaimana orang mau masuk kalau jalan di tutup. Konsepnya menurut saya keliru, di mana-mana pasar itu mencari arus pembeli yang banyak. Nah, sekarang jalan ditutup, orang mau parkir di mana?,” tanyanya.

    Pedagang kue, Norlaila. (Foto: Wahyu/pojokbanua.com)

Kata dia, hal seperti ini harus menjadi perhatian pemerintah. Sebab, membuat pedagang dan pelaku UMKM yang turut serta di pasar wadai ini mengeluh.

“Saya harap, pasar tak hanya dipoles untuk kepentingan penguasa saja. Tapi, harus memikirkan kepentingan pedagang. Ini menjadi tugas kita semua, sebelum hari ketujuh sudah harus ada evaluasi agar pada akhir Ramadan nanti, pasar bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.

Seorang pedagang, Nurul mengungkapkan, memang kondisi pasar wadai jauh menurun dibandingkan saat pembukaannya.

“Menurun dari hari pertama, bahkan ada yang sehari 12 orang saja yang membeli. Hilang seperti disapu angin,” bebernya.

Diakui Nurul, konsep pasar wadai ini kurang tepat jika dibandingkan yang lain, karena cuma ramai di awal saja.

“Kalau mau bertahan, mungkin harus diubah konsep pasarnya. Kalau rugi terus kami bisa berhenti, paling lama bisa bertahan setengah bulan. Walau ada aturan jika libur dua hari akan di diskualifikasi, tapi kalau keadaan seperti ini, ya sudahlah,” cetusnya.

Pedagang lainnya, Norlaila pun mengatakan hal senada. “Hari pertama ramai, setelah berjalan selama seminggu ini agak berkurang pembeli yang datang,” pungkasnya. (WF/KW)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

IMG-20221227-WA0005
1. Infografis sosmed 10 penyakit
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
IMG-20221228-WA0020
2. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221225-WA0006
TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221229-WA0030

Member JMSI

Network

LAINNYA