iklan di pojokbanua

Menyusuri Sungai Buluh HST, Potret Warga yang Menggantung Hidup dengan Jala

waktu baca 2 menit
Minggu, 5 Mei 2024 11:12 0 Muhammad Hidayatullah

POJOKBANUA, BARABAI – Potret kehidupan masyarakat di daerah pinggiran Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) selalu ada beragam cerita menarik dibaliknya.

IMG-20240616-WA0002

Salah satunya ada di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU). Selama dua hari menyusuri daerah itu, ada banyak kisah perjuangan masyarakat demi menyambung hidup.

Memiliki kondisi geografis perairan rawa menjadikan masyarakat di sana mayoritas menggantung hidup dengan jala alias nelayan tradisional.

Salah satu warga Dusun Awang Landas, Desa Sungai Buluh, Basri mengatakan, sudah sejak kecil dirinya bergelut sebagai nelayan. Menurutnya, tak ada pilihan profesi lain bagi masyarakat apalagi yang pemukimannya di daerah ujung.

Ia bercerita, jam kerjanya sebagai nelayan rata-rata dimulai sejak sore pukul 16.00 – 18.00 Wita untuk memasang alat tangkap ikan tradisional, baik berupa ringgi, jala maupun alat tangkap sejenis lainnya.

Jumlah alat tangkap yang dipasang biasanya 30 payah (buah). Untuk operasional pemasangannya memerlukan 2 liter pertalite menggunakan perahu motor yang dikemudikannya.

“Selesai memasang biasanya pulang ke rumah istirahat, baru subuh turun lagi untuk memetik hasil,” ujarnya, belum lama tadi.

Subuh menjelang pagi sekitar pukul 04.00 Wita, dirinya turun kembali ke air untuk memetik hasil dari alat tangkapnya. Berapa pun hasilnya, langsung dibawa menuju Pinang Habang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) untuk dijual.

“Operasionalnya sekitar 2 liter pertalite juga untuk menjual ini. Biasanya pagi jam 07.00 Wita sudah kembali ke rumah,” tambahnya.

Basri mengaku, ia lebih fokus untuk mencari ikan nila karena dinilai harganya lebih stabil dan menjanjikan. Untuk di Pinang Habang biasanya dihargai Rp25 ribu per kilogram.

Meski begitu, tak ada pendapatan pasti dari profesinya ini. Perolehan kotornya kadang Rp70 ribu hingga Rp180 ribu. Itu pun harus dipangkas lagi dengan operasional minyak sekitar 4 liter atau Rp50 ribu sekali turun.

“Kalau cuaca hujan atau badai kita tidak bisa bekerja. Walaupun seadanya, kita tetap bersyukur,” tuturnya.

Selain itu, karena kondisi geografisnya perairan rawa, masyarakat setempat pun tidak bisa melangsungkan bertani atau berkebun. Untuk kebutuhan beras pun mereka harus membeli di luar.

Walaupun dihadapkan dengan keterbatasan ekonomi, Basri punya secercah harapan untuk masa depan. Ia ingin anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Saat ini, anaknya merupakan satu-satunya di Dusun Awang Landas, Desa Sungai Buluh yang sedang melangsungkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Amuntai dengan beasiswa.

“Alhamdulillah, anak saya saat ini bisa menempuh pendidikan tinggi dengan beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar). Mudah-mudahan, bisa mendapat masa depan yang lebih baik,” harapnya. (MH/KW)

Editor: Yuliandri Kusuma Wardani

Muhammad Hidayatullah

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

PENJUALAN ROKOK BATANGAN
IMG-20221229-WA0030
2. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221227-WA0005
IMG-20221228-WA0020
TIPS AMANKAN DATA
1. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221225-WA0006

Member JMSI

Network

LAINNYA