iklan di pojokbanua

Menelusuri Jejak Haji Satta sang Saudagar Cempaka: Pernah Miliki Intan Satu Botol Besar dari Hasil Pendulangan (1)

waktu baca 3 menit
Minggu, 30 Apr 2023 12:34 0 Fikri Noor

POJOKBANUA, BANJARBARU – Warga Cempaka, Banjarbaru khususnya di Kampung Lukaas, Kelurahan Sungai Tiung tentu tak asing dengan sosok seorang saudagar ternama bernama Haji Satta, atau populer dengan sebutan Saudagar Cempaka.

Diketahui, Saudagar Cempaka ini memiliki sebuah rumah yang berusia cukup tua namun masih kokoh berdiri, di Jalan Mistar Cokrokusumo, Nomor 20, RT.029/RW.009, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka. Rumah bergaya adat Banjar Gajah Manyusu yang seluruhnya menggunakan konstruksi kayu ulin ini berdiri di tengah hutan dan kebun karet.

Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur mengungkapkan ada dua versi keberadaan tokoh Haji Satta. Di mana, menurut Yusliani Noor, Mansyur dan Sayyidati dalam buku Sejarah Pendulangan Intan Kalsel (2020), menuliskan Saudagar Satta atau Juragan Satta adalah pemilik lokasi pendulangan intan di area Cempaka atau biasa disebut pendulangan Tipe Alur Cempaka.

“Lokasi pendulangan intan di Alur ini sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Tanah pendulangan di lokasi ini, milik Juragan Satta, yang berdomisili di wilayah Pasayangan, Martapura,” ucap Mansyur kepada pojokbanua.com, Sabtu (29/4/2023) kemarin.

Pria yang akrab disapa Sammy ini menuturkan, konon Juragan Satta pernah memiliki intan lebih dari satu botol besar. Semuanya merupakan hasil pendulangan intan di tanah miliknya. Selain Haji Satta, terdapat saudagar atau juragan lain yakni Haji Muin di Pingaran Astambul, juga sangat kaya dari hasil pendulangan intan di tanah miliknya.

“Banyak juga pemilik lahan pendulangan intan lainnya yang kaya dan sukses hidupnya,” imbuhnya.

Pemilik lahan tanah berintan banyak yang beruntung karena para pendulangnya selalu jujur, maka biasanya mereka merelakan tanahnya dikerjakan hingga puluhan tahun. Untuk itu, pemilik lahan harus mengetahui asal usul kampung dari para pendulang intan yang mendulang intan di lahannya.

“Secara geologis, pendulangan pada lokasi ini memiliki jalur lapisan yang sama dengan di wilayah yang bernama alur Kayu Tinggi. Lapisan tanah berpasir berwarna merah yang disertai pasir kraha (rangkan-rampit) menandakan lokasi ini sebagai lokasi pendulangan intan kuyak halalang,” jelasnya.

Kembali soal rumah Saudagar Cempaka di Kampung Lukaas. Haji Satta tidak membangun rumah dari bahan batu, hal ini dikarenakan dia memanfaatkan bahan kayu ulin yang saat itu mudah dibeli. Konon, semua bagian rumah ini tidak dipaku, tapi diberi pasak dari kayu ulin. Sementara kunci dan gagang pintu didatangkan dari Jawa.

“Menurut cerita, Haji Satta mampu membangun rumah itu karena punya penghasilan dari usaha perkebunan. Haji Satta memiliki perkebunan karet di wilayah Cempaka. Hingga saat ini masih ada lahan dan gudang penyimpanan karet milik Haji Satta di Cempaka,” bebernya.

Bersambung…. (FN/KW)

Editor: Yuliandri Kusuma Wardani

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221228-WA0020
1. Infografis sosmed 10 penyakit
2. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221229-WA0030
IMG-20221225-WA0006
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
IMG-20221227-WA0005

Member JMSI

Network

LAINNYA