iklan di pojokbanua

Kisah Sosok Ulama Kharismatik Datu Kelampaian

waktu baca 8 menit
Jumat, 6 Mei 2022 18:17 0 Nanang Apidae

POJOKBANUA, BANJARMASIN – Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari alias Datu Kalampaian adalah tokoh ulama besar kharismatik di Kalimantan Selatan (Kalsel) maupun Indonesia, sekaligus pengembang ilmu pengetahuan dan agama.

Dilansir dari Kompas.com, karyanya hinga kini tetap dibaca orang di masjid dan disebut sebagai rujukan. Nama kitabnya Sabilal Muhtadin diabadikan untuk nama Masjid Agung di Banjarmasin, Jumat (6/5/2022).

Nama kitabnya yang lain, Tuhfatur Raghibin juga diabadikan untuk sebuah masjid yang tak jauh dari makamnya. Tak hanya itu, hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya, baik sebagai keturunan atau muridnya.

Dia lahir di Desa Lok Gabang, Banjarmasin pada Kamis dini hari, pukul 03.00 (waktu sahur), 15 Safar 1122 H atau 17 Maret 1710 M. Beliau seorang ulama besar bermazhab Syafi’i dan menjadi Mufti (penasehat agama) Kerajaan Banjar.

1. Masa kecil Datu Kelampaian

Sebagaimana anak-anak pada umumnya, ia bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun, pada dirinya sudah terlihat kecerdasan lebih.

Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan tulis. Sehingga, siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau.

Pada saat Sulthan Tahlilullah bin Sulthan Sa’idullah se‎dang berkunjung ke Kampung Lok Gabang, ia melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun.

Terkesan akan kejadian itu, maka Sulthan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di Istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sulthan.

Di Istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang. Sulthan sangat memperhatikan dalam hal pendidikan, karena diharapkan kelak menjadi pemimpin yang alim.

2. Menikah dan menuntut ilmu di Mekkah

Ia mendapat pendidikan penuh di Istana hingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian, dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.

Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannya hasrat itu kepada sang istri tercinta.

Meski dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya sang istri mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Setelah mendapat restu dari Sultan, berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara gurunya adalah Syekh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi danal-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Selama menuntut ilmu di Tanah Suci, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis sehingga mereka dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi (Melayu).

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah, timbul niat untuk menuntut ilmu ke Mesir. Ketika niat ini disampaikan dengan guru mereka, Syekh menyarankan agar keempat muridnya ini pulang ke Jawi (Indonesia) untuk berdakwah di negerinya masing-masing.

3. Menikahkan anak

Sebelum pulang, keempat sahabat sepakat untuk berhaji kembali di Tanah Suci Mekkah. Saat itu, tanpa disangka Syekh Muhammad Arsyad bertemu dengan adik kandungnya, Zainal Abidin bin Abdullah yang sedang menunaikan ibadah haji.

Sang adik membawa kabar berita bahwa anaknya yaitu Fatimah sudah beranjak dewasa dan menitipkan cincin. Melihat hal demikian, tiga sahabat Syekh Muhammad Arsyad masing-masing mengajukan lamaran untuk memperistri anak tersebut.

Setelah berpikir lama, Syekh Muhammad Arsyad memutuskan untuk mengundi lamaran yang akan diterima. Hasil pengundian ternyata lamaran Syekh Abdul Wahab Bugis yang diterima.

Makanya, diadakan ijab kabul pernikahan antara Syekh Abdul Wahab Bugis dengan Fatimah binti Syekh Muhammad Arsyad yang dinikahkan langsung oleh Syekh Muhammad Arsyad sambil disaksikan dua sahabat lainnya.

4. Membetulkan arah kiblat masjid

Maka bertolaklah keempat putra Nusantara ini menuju kampung halaman. Memasuki wilayah Nusantara, bermula mereka singgah di Sumatera yaitu Palembang, kampung halaman Syekh Abdussamad Al Falimbani. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Betawi, yaitu kampung halaman Syekh Abdurrahman Misri.

Selama di Betawi, Syekh Muhammad Arsyad diminta menetap sebentar untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.

Salah satu peristiwa penting selama di Betawi adalah ketika Syekh Muhammad Arsyad membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Masjid Pekojan.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat sekitar Masjid Jembatan Lima menuliskan di atas batu dalam aksara arab melayu (tulisan Jawi). Menyatakan, kiblat masjid ini telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh Muhammad Arsyad Al Banjari, pada 4 Safar 1186 H.

Setelah dirasa cukup, maka Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdul Wahab Bugis berlayar menuju kampung halaman ke Martapura, Banjar.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

IMG-20221228-WA0020
IMG-20221225-WA0006
2. Infografis sosmed 10 penyakit
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221229-WA0030
1. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221227-WA0005

Member JMSI

Network

LAINNYA