iklan di pojokbanua

Kadis LH Kalsel Sebut Rendahnya Tutupan Lahan dan Kualitas Air, Tambang Jadi Salah Satu Faktor Penyebab

waktu baca 2 menit
Rabu, 18 Agu 2021 11:41 0 Hasanuddin

POJOKBANUA, BANJARBARU – Kadis LH Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana mengatakan, tutupan lahan masih tergolong rendah meski harus memaksimalkan program revolusi hijau.

IMG-20240616-WA0002

“Selain itu, kualitas air masih sangat rendah. Rendahnya kualitas air di sejumlah sumber tercemar, misal limbah domestik,” ujarnya ke
pada pojokbanua.com, Rabu (18/8/2021).

Hampir 98 persen COD (Chemical Oxygen Demand) dan BOD (Biological Oxygen Demand) air di Kalsel tinggi akibat limbah (domestik) rumah tangga.

Menurutnya, kedua faktor ini dominan mempengaruhi buruknya lingkungan. Bahkan, pengaplikasian pupuk yang kurang tepat di perkebunan, dapat menyumbang tingginya kandungan nitrat di dalam air.

“Pupuk yang di tebar di permukaan lahan perkebunan, kemungkinan terserap tanah yang lebih kecil dan sisanya larut dalam air,” imbuhnya.

Hanifah menuturkan, ada kegiatan pertambangan yang menimbulkan partikel besar hingga menyebabkan air keruh. Dalam beberapa kasus, penggunaan logam berat merkuri di pertambangan emas juga menjadi unsur cemar yang berbahaya.

“Harus kami akui tambang juga menyumbang dalam hal kekeruhan dan kandungan merkuri di beberapa titik di Kalsel,” ungkapnya.

Disinggung soal tutupan lahan yang menipis? Hanifah menjelaskan, laju deforestasi menjadi penyebab utama. Pemulihannya akan memakan waktu yang sangat panjang.

“Deforestasi hutan tak melulu disebabkan kegiatan pertambangan, namun juga pembalakan liar. Jangan dikira tidak ada, masih banyak,” timpalnya.

Saat ini, Pemprov Kalsel tidak hanya berpangku tangan terkait persoalan ini. Program dalam rangka perbaikan lingkungan hidup telah banyak digencarkan.

Mulai dari pencegahan kerusakan melalui proses Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), perbaikan hutan lewat revolusi hijau. Kemudian, memetakan potensi hutan dan program bibit pada kebun desa.

“Untuk melihat kondisi air, saat ini DLH Kalsel selalu melakukan pemantauan secara berkala pada sejumlah sungai di Banua. Setidaknya, ada 38 titik dari 13 sungai, ditambah beberapa sungai yang tersebar di beberapa Kabupaten/kota,” ucapnya.

Dalam proses pemantauan, sempat ditemukan logam berat merkuri yang melebihi ambang batas baku mutu air sehingga berbahaya apabila dikonsumsi. Walaupun proses mitigasi dan pemulihan kondisi air segera dilakukan oleh DLH nantinya.

Nirwana menilai, dari sekian banyak program yang di tawarkan pemerintah, kesadaran menjaga lingkungan hidup, baik dari kelompok maupun individu bisa menjadi solusi paling efektif mendorong pemulihan lingkungan hidup di Kalsel.

“Kondisi ini masih bisa kita benahi dengan elaborasi dan duduk bersama untuk menyelesaikan masalah. Perilaku kita juga perlu diubah, jangan buang sampah sembarangan,” tandasnya. (SB/PR)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

IMG-20221225-WA0006
2. Infografis sosmed 10 penyakit
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
IMG-20221229-WA0030
1. Infografis sosmed 10 penyakit
TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221228-WA0020
IMG-20221227-WA0005

Member JMSI

Network

LAINNYA