iklan di pojokbanua

Ekspor di Kalsel Lebih Besar Dibanding Impor

waktu baca 3 menit
Rabu, 4 Agu 2021 16:12 0 Hasanuddin

POJOKBANUA, BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis data ekspor dan impor selama Juni 2021 lalu.

IMG-20240616-WA0002

Dalam rilis itu, diketahui nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor.

Meminjam data BPS Kalsel, nilai ekspor di Kalsel pada Juni 2021 tercatat USD698,87 juta. Hal itu menjadi naik 3,42 persen dibandingkan Mei 2021 yang mencapai USD675,75 juta.

Sedangkan nilai impor juga mengalami kenaikan sebesar 1,33 persen. Dari USD31,06 juta menjadi USD31,47 juta.

Kepala BPS Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, naik ekspor lantaran kontribusi dari sejumlah kelompok barang pada Juni mengalami kenaikan.

“Salah satunya kelompok bahan bakar mineral, nilainya USD584,92 juta. Naik sebesar 10,54 persen dibandingkan Mei,” ucapnya Rabu (4/8/2021).

Selain bahan bakar mineral, kata dia, kelompok barang lain yang juga mengalami kenaikan ekspor yakni kelompok kayu atau barang dari kayu.

“Nilai ekspor kelompok ini di Juni USD29,94 juta, naik sebesar 38,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” bebernya.

Terkait negara tujuan ekspor, Yos menuturkan, pada periode April barang-barang dari Kalsel paling banyak diekspor ke Tiongkok dengan nilai USD359,80 juta.

“Nilai ekspor ke Tiongkok ini mengalami kenaikan 31,14 persen dibandingkan Mei 2021,” kata dia.

Selain Tiongkok, tutur Yos, ekspor Kalsel ke India pada Mei juga lumayan tinggi yakni sebesar USD78,03 juta.

“Malaysia berada di urutan ke tiga dengan nilai ekspor sebesar USD62,22 juta, disusul Jepang USD39,30 juta dan Pakistan USD30,64 juta,” ujarnya.

Sementara untuk perkembangan impor, jelas dia, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada Juni 2021. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD24,95 juta; kapal laut, USD2,96 juta dan kelompok pupuk, USD1,24 juta.

“Kontribusi dari masing-masing tiga kelompok ini kalau diurut adalah 79,29 persen, 9,40 persen dan 3,94 persen dari total impor Juni,” ucapnya.

Mengenai impor menurut negara asal, Yos merincikan, tertinggi berasal dari Singapura yang mencapai USD25,12 juta. Diikuti Malaysia, USD3,05 juta dan Korea Selatan, USD1,83 juta. “Singapura jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 79,82 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya.

Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada Juni 2021 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD667,40 juta.

“Nilai tersebut lebih besar dibandingkan neraca perdagangan pada bulan Mei 2021 yang surplus USD644,69 juta,” timpalnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani menuturkan, besarnya ekspor perlu menjadi perhatian para pelaku usaha untuk terus meningkatkan produksi dan perbaikan kualitas produk.

“Mengingat saat ini permintaan pasar dunia semakin tinggi, terutama terhadap komoditi dan produk pertambangan, serta kelapa sawit/CPO,” katanya.

Terlebih saat ini, ujarnya, harga kedua komoditi tersebut sedang mengalami kenaikan di pasar dunia. Begitu pula produk lainnya, seperti karet alam, kayu maupun rotan.

“Pelaku usaha harus memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya untuk turut serta memperbaiki pertumbuhan ekonomi Kalsel dan Indonesia pada umumnya,” ucapnya.

Sedangkan pemerintah menurutnya harus semakin memperbaiki pelayanan terhadap upaya-upaya peningkatan perekonomian dengan memberikan kemudahan untuk para pelaku usaha.

“Pelayanan yang cepat serta tepat sangat diperlukan, agar terjalin kerjasama yang baik dan harmonis dengan pelaku usaha,” tandasnya. (SB)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

1. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221228-WA0020
IMG-20221227-WA0005
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221225-WA0006
2. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221229-WA0030

Member JMSI

Network

LAINNYA