iklan di pojokbanua

DEMA FEBI Antasari Kritik Mahalnya Pendidikan Tinggi di Indonesia, Berikut Isi Tuntutannya

waktu baca 2 menit
Selasa, 21 Mei 2024 14:44 0 Andy Arfian

POJOKBANUA, BANJARMASIN – Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Dema FEBI) UIN Antasari Banjarmasin secara tegas memberikan tanggapan terkait mahalnya biaya pendidikan tinggi di Indonesia. Dalam pernyataan tertulisnya yang disampaikan kepada media pada Selasa (21/5/2024), Dema FEBI tidak segan-segan mengkritik kebijakan pendidikan yang dinilai semakin tidak terjangkau bagi rakyat.

Dema FEBI mengkritik pernyataan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menyebut pendidikan tinggi hanya sebagai “Tertiary Education” (Pendidikan Tersier.red). Menurut Dema FEBI, pandangan tersebut menunjukkan betapa sempitnya pemahaman pemerintah terhadap pentingnya akses pendidikan tinggi bagi masa depan bangsa.

“Kalau pendidikan tinggi hanya dianggap sebagai ‘tertiary education’, maka mungkin para pejabat kita perlu kembali ke bangku kuliah untuk belajar arti sebenarnya dari pendidikan bagi pembangunan negeri. Atau mungkin mereka hanya menginginkan generasi muda kita cukup sampai tahap ‘primary’ dan ‘secondary’ saja, supaya tidak banyak yang bisa mengkritik mereka di kemudian hari,” ujar Ketua Dema FEBI Periode 2024-2025, Husein Fakhrezi.

Dema FEBI menuntut pemerintah segera menyelesaikan masalah tingginya biaya pendidikan. Mereka menilai pemerintah tidak serius dalam mengupayakan solusi yang dapat meringankan beban mahasiswa dan orang tua.

“Mungkin pemerintah beranggapan bahwa pendidikan tinggi adalah barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berpunya. Jika demikian, kami sarankan agar mereka mengganti slogan ‘Merdeka Belajar’ menjadi ‘Merdeka dari Belajar’ bagi mereka yang tidak mampu membayar,” ungkap Sekretaris Departemen Advokasi Dema FEBI, Syahri Mahmudi.

Dalam rilisnya, Dema FEBI juga menyoroti ironi alokasi anggaran pemerintah yang lebih banyak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak mendesak daripada sektor pendidikan.

“Rupanya, pemerintah kita lebih gemar menghamburkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur megah yang bisa dipamerkan, ketimbang investasi jangka panjang berupa pendidikan generasi muda. Mungkin mereka lupa, jembatan emas pun tak berarti jika tak ada generasi terdidik yang mampu memanfaatkannya,” tambah Syahri Mahmudi.

Di akhir pernyataannya, Dema FEBI menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal isu ini dan mengajak seluruh mahasiswa di Indonesia untuk bersatu memperjuangkan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas.

“Kami akan terus bersuara, bukan hanya demi kami yang sedang menempuh pendidikan saat ini, tetapi juga demi adik-adik kami dan generasi mendatang. Pendidikan bukanlah barang mewah, melainkan hak dasar setiap warga negara yang harus dijamin oleh pemerintah,” Pungkas Husein Fakhrezi.

Dema FEBI UIN Antasari Banjarmasin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan hak pendidikan yang lebih baik dan terjangkau bagi semua. Sebab menurut mereka, pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun masa depan bangsa yang lebih cerah dan berkeadilan. (RLS/AY)

Editor: Andy Arfian

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

IMG-20221228-WA0020
TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221225-WA0006
2. Infografis sosmed 10 penyakit
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
IMG-20221227-WA0005
IMG-20221229-WA0030
1. Infografis sosmed 10 penyakit

Member JMSI

Network

LAINNYA