iklan di pojokbanua

Dampak PPKM Level 4, Pelaku Usaha Kopi Akui Pendapatan Anjlok

waktu baca 2 menit
Rabu, 11 Agu 2021 18:56 0 Musa Bastara

POJOKBANUA, BANJARBARU – Tidak bisa dipungkiri, perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Banjarbaru sampai 23 Agustus mendatang membuat berbagai sektor usaha kian terpukul. Tak terkecuali, bisnis kedai kopi.

IMG-20240616-WA0002

Pemilik 3 Mei Coffe, Rio Saputra mengaku, dampak PPKM Level 4 sangat terasa. Terutama, dari segi pendapatan yang rata-rata anjlok 70 sampai 80 persen.

Selain itu, beberapa karyawan dirumahkan dan tidak sedikit pula yang terpaksa diberhentikan akibat omzet menurun.

“Dari cerita teman-teman saya, beberapa menjual aset peralatan kopi untuk bisa bertahan. Bahkan, beberapa kedai (kopi) juga sudah memilih untuk tutup,” ujar Rio kepada pojokbanua.com, Rabu (11/8/2021).

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi kekuatan usaha kopinya bisa bertahan. Salah satunya, support sesama pelaku industri kopi.

“Jadi sekarang ini, industri kopi harus ekstra memutar otak agar usahanya bisa bertahan. Salah satunya, memanfaatkan strategi marketing di media sosial (medsos),” tuturnya.

Kata dia, keberadaan medsos saat ini hanya sedikit membantu, karena mayoritas konsumen memilih langsung santai di tempat.

Kendalanya, terkait aturan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2021. Di mana hanya menerima delivery/take away dan tidak menerima makan di tempat/dine-in untuk kafe skala sedang dan besar.

“Oleh karena itu, kami juga mengambil langkah mediasi dengan pemangku kebijakan untuk meringankan beban di masa penerapan PPKM ini,” ucapnya.

Psalnya, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bahkan menjadi sorotan. Lantaran, pedagang kaki lima (PKL) dan semacamnya masih dibolehkan buka dengan kapasitas 25 sampai 50 persen.

Terpisah, Pemilik Chest and Poets Cafe, Randu mengatakan, dampak PPKM Level 4 ini sangat besar. Salah satunya, ancaman kehilangan pemasukan.

“Aturan minta dijalankan, sementara tidak ada kompensasi yang diberikan,” cetusnya.

Ia menambahkan, semestinya ada penyesuaian dari daerah. Misal, mengatur jam buka tutup yang berbeda antara kafe dan resto. Resto buka siang, sementara kafe buka malam.

“Selama ini kedua bisnis itu disamakan, padahal perilaku pelanggannya beda,” imbuhnya.

Sementara itu, Pemilik Kafe Universe, Dias turut menyayangkan aturan pemerintah tersebut.

Warga Banjarbaru yang memiliki bisnis kafe di Banjarmasin ini menyebut, industri kopi mampu menciptakan lapangan kerja yang besar di Kalsel.

Seharusnya, dibuatkan kebijakan yang humanis. “Lagi pula kebanyakan kafe sudah mematuhi standarisasi dari segi kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan. Pastinya, juga menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat,” lanjutnya.

“Setidaknya, bisa dine-in 25 sampai 50 persen dari kapasitas kursi yang ada dengan batasan waktu serta prokes yang ketat,” tutup Dias. (MS/PR)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

TIPS AMANKAN DATA
IMG-20221227-WA0005
IMG-20221229-WA0030
IMG-20221225-WA0006
IMG-20221228-WA0020
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
1. Infografis sosmed 10 penyakit
2. Infografis sosmed 10 penyakit

Member JMSI

Network

LAINNYA