iklan di pojokbanua

Cerita Mita Yulian Sasmita, Volunteer FIFA yang Berhasil Wujudkan Mimpi Bertemu Timnas Argentina

waktu baca 12 menit
Sabtu, 4 Mar 2023 12:32 0 Andy Arfian

POJOKBANUA, JAKARTA – Volunteer FIFA adalah sekelompok sukarelawan yang membantu mengatur dan menyelenggarakan berbagai kegiatan dan acara terkait Piala Dunia FIFA.

Para sukarelawan ini biasanya terdiri dari orang-orang yang antusias terhadap sepak bola, memiliki keterampilan tertentu yang dibutuhkan, atau hanya ingin memberikan kontribusi positif pada event-event resmi FIFA.

Tugas-tugas volunteer FIFA mencakup berbagai bidang, termasuk akreditasi, transportasi, akomodasi, keamanan, kesehatan, dan keselamatan. Mereka membantu memastikan bahwa acara berjalan dengan lancar, memberikan pengalaman terbaik untuk para penonton, serta membantu membangun hubungan antara negara-negara peserta dan masyarakat setempat.

Selain itu, menjadi volunteer FIFA juga memberikan kesempatan bagi para sukarelawan untuk memperluas jaringan, meningkatkan keterampilan, dan mendapatkan pengalaman yang berharga dalam mengatur acara skala internasional.

Hampir setiap tahun FIFA selaku induk federasi sepak bola menggelar penjaringan sukarelawan dari seluruh dunia guna membantu tuan rumah dan panitia pertandingan even sepak bola dunia yang digelar FIFA.

Mita Yulian Sasmita atau biasa dipanggil Mita, satu dari ribuan sukarelawan asal Indonesia berhasil lolos menjadi Volunteer FIFA dan telah mengikuti dua edisi Piala Dunia (Rusia 2018 dan Qatar 2022).

Melalui wawancara eksklusif dengan pojokbanua via WhatsApp, Sabtu (4/3/2023), Mita membagikan kisah perjuangannya menjadi sukarelawan FIFA hingga berjuang mencari sponsor guna keberangakatannya ke negara tempa piala dunia digelar.

Mita diketahui berprofesi sebagai pengajar Bahasa Inggris pada salah satu tempat kursus di Jakarta. Selain dunia mengajar, ia juga menyukai dunia tulis menulis, terutama di blog www.teronggemuk.com. Hobinya membaca, jalan-jalan dan sepak bola. Klub favoritnya, Manchester United untuk tim nasional. Selain Indonesia, ia juga mendukung Argentina sejak tahun 1994.

Mita sudah menjadi Volunteer FIFA di dua edisi Piala dunia, bagaimana perjuangan dan apa dorongan awal hingga lolos menjadi volunteer FIFA?

Sebenarnya menjadi relawan FIFA bukan hal yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Tapi memang, sejak saya menyaksikan Piala Dunia 1998, saat itu umur saya 13 tahun dan sudah paham jalannya turnamen tersebut. Saya suka iri melihat anak-anak kecil yang tangannya digandeng pemain masuk ke lapangan. Tentu saat itu saya berpikir “Ah mana mungkin bisa, kan saya udah gak sekecil mereka lagi,” ucapnya.

Lalu dari situ, saya melihat mereka yang membawa bendera tim nasional di upacara sebelum pertandingan. Saya lihat, umur mereka sepertinya sudah dewasa, di situlah saya mulai berangan, suatu saat saya mau seperti mereka, membawa bendera Argentina ke lapangan dan berpartisipasi di Piala Dunia.

Selama 5 Piala Dunia bergulir, impian itu terus saya peluk meski usia saya terus bertambah tua. Siapa sangka, di tahun 2016 saya mendapat informasi bahwa FIFA mencari relawan untuk Piala Konfederasi Rusia 2017 dan Piala Dunia Rusia 2018. Saya langsung membatin “Apakah ini jalan saya untuk akhirnya mewujudkan angan. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mendaftar. Padahal, saya nggak punya pengalaman relawan sama sekali. Modal saya cuma sekedar minat yang besar terhadap sepak bola, dan keinginan tinggi menjadikan mimpi saya jadi nyata,” tuturnya.

Kemudian, ia dinyatakan lolos untuk menjadi relawan di Piala Konfederasi Rusia 2017! Bagian ticketing menjadi area kerja yang ditawarkan. Nekat, saya terima meski saya sama sekali tidak paham apa-apa tentang bidang pertiketan. Dua minggu saya berada di kota Kazan, Rusia membantu perhelatan tersebut berlangsung, dan ternyata saya sangat menyukai kegiatan ini dan berharap bisa kembali terpilih untuk Piala Dunia 2018.

Dasar mungkin beruntung, tanpa harus seleksi ulang, saya diterima untuk mengunjungi lagi Negeri Beruang Merah untuk Piala Dunia 2018. Mungkin kinerja saya dianggap baik oleh pemimpin tim, sehingga dia mereferensikan saya ke Komite Organisasi Lokal. Di Piala Dunia ini, mimpi saya benar-benar terwujud. Saya mendapat kesempatan untuk membawa bendera Argentina ke lapangan. Saat itu, Argentina tanding melawan Prancis. Kalah, tapi saya tetap bahagia karena selain bisa membawa bendera La Albiceleste (julukan timnas Argentina.red). Saya juga sempat melihat sosok Diego Armando Maradona secara jelas. Berdiri di tribun tepat di atas lokasi saya bekerja. Saat itu dia berteriak, “Vamos Argentina!” dengan segenap hati.

Sejujurnya, selepas Rusia saya tidak berambisi untuk menjadi relawan di Qatar. Namun, berhubung banyak yang menemukan pengalaman relawan yang saya tulis lewat blog, banyak juga yang mengirim pesan untuk bertanya tentang proses seleksi. Ya udah, saya pun ikutan daftar supaya sekedar tau alurnya seperti apa, sehingga bisa menjawab pertanyaan mereka yang pengen ikut jadi relawan Piala Dunia Qatar 2022. Siapa sangka, saya mendapat panggilan wawancara di akhir Agustus, lalu dua hari setelahnya langsung diterima. Terlanjur basah, ya sudah mandi di kali. Saya sikat kesempatan ini, mungkin Tuhan memang ada rencana untuk saya.

Benar saja, ternyata di Piala Dunia Qatar 2022 saya bertugas di Stadion Lusail tempat Argentina main dan meski kali ini saya tidak mendapat kesempatan membawa bendera Argentina ke lapangan, saya beruntung diberi tiket nonton gratis oleh pengawas tim. Sehingga, saya bisa menyaksikan Argentina main dan mengangkat piala kemenangan. Bisa terlibat sebagai relawan dalam Piala Dunia aja udah luar biasa, ini ditambah bisa lihat langsung tim nasional favorit saya juara.

Menjadi volunteer FIFA untuk tiket dan akomodasi tidak ditanggung FIFA maupun negara penyelenggara Piala Dunia, bagaimana Mita memenuhi keperluan ini?

Dari sejak awal mendaftar di 2016, melihat kata relawan itu saya sudah paham bahwa saya pasti akan membiayai semua sendiri. Namun karena keinginan untuk mewujudkan mimpi sebegitu besarnya. “Saya pikir, udah daftar aja, urusan biaya dipikirin belakangan. Kan belum tentu diterima juga. Lebih baik nyesal tapi sudah mencoba, daripada nyesal karena nggak berbuat apa-apa,” cetusnya. Di Piala Konfederasi Rusia 2017, saya memakai uang pribadi karena tiket pesawatnya masih masuk di kantong (terjangkau.red), dan Rusia juga ternyata tidak semahal yang saya kira.

Baru deh di Piala Dunia 2018 saya ketar-ketir karena tiket pesawat PP Jakarta-Kazan berkisar di angka Rp35-40 juta. Di Piala Dunia 2022, juga nggak kalah deg-degan karena tiket PP Jakarta-Doha yang termurah ada di angka Rp25 juta. Mana saya kan harus ke negara tujuan di waktu yang sudah ditentukan, jadi nggak bisa milih mana yang termurah. Walau akhirnya Rusia dan Qatar sama-sama memberi fasilitas tempat tinggal gratis, saya tetap takut membayangkan besarnya dana yang dibutuhkan untuk tiket pesawat. Namun entah kenapa, tiba-tiba terbersit untuk mencoba cari sponsor untuk membiayai kegiatan jadi relawan FIFA ini.

Tips dan trik dari Mita dalam mencari sponsor untuk keberangkatan Mita ke negara penyelenggaraan Piala Dunia?

Kalo untuk tips dan trik, sebenarnya nggak ada yang spesial. Saya mulai dengan mencari di Google contoh proposal pendanaan. Dari beragam contoh yang saya dapat, baru saya susun sesuai kebutuhan. Isi utamanya adalah latar belakang kegiatan, perkenalan diri dan dana yang dibutuhkan. Saya tidak mencantumkan timbal balik yang bisa saya berikan, karena memang saya bukanlah seorang influencer yang bisa memberi profit besar, namun saya tulis bahwa saya siap berdiskusi tentang apa yang bisa saya berikan kepada perusahaan atau tokoh terkait.

Selanjutnya? Kirim-kirim. Saya lempar jala ke semua tempat. Nggak hanya perusahaan atau tokoh yang berkaitan dengan olahraga dan sepak bola mulai dari produk makanan ringan, artis TikTok, artis sultan, sampai baby sitter artis sultan tidak luput dari saya kirimi proposal. Proposalnya pun hanya beberapa yang saya kirim langsung ke pihak terkait, sisanya saya kirim lewat email atau alamat yang saya dapat di kotak kemasan, website perusahaan, atau email di profil sosial media mereka. Beberapa juga dititip ke teman. Ada total 70-an perusahaan dan tokoh yang saya kirimi di 2018, dan lebih dari 100 di 2022.

Boleh gak sebutin beberapa nama yang pernah atau bersedia jadi sponsor Mita?

Alhamdulillaah, ternyata kegigihan saya membuahkan hasil. Di tahun 2018 saya mendapat sponsor dari Telkomsel, PT. Pupuk Indonesia, PT. Bukit Asam, dan Pak Prabowo Subianto (saat itu calon presiden, kini Menteri Pertahanan). Di tahun 2022, saya mendapat sponsor dari Pak Erick Thohir, Menteri BUMN. Mungkin banyak yang berpikir, “Wow banget bisa tembus ke dua nama besar,” ungkapnya. Tapi sesungguhnya tidak ada yang khusus, karena saya memang nggak malu-malu mengabarkan ke orang kalau saya sedang mencari sponsor, saya banyak dibantu. Nomor handphone asisten Pak Prabowo saya dapat dari teman yang mantan jurnalis, sedangkan Pak Erick bermula dari nitip proposal ke teman saya, lalu berlanjut ke tangan-tangan lain hingga nyangkut ke beliau. Jadi sepertinya punya teman banyak juga bisa dibilang kunci kesuksesan. Bagi yang mau contoh proposalnya bisa kirim email ke saya di [email protected].

Bagaimana Mita berkomunikasi dengan volunteer dan staf lain di Piala Dunia?

Dari segi bahasa, menjadi relawan FIFA kita hanya diminta untuk memiliki kemampuan Bahasa Inggris level Intermediate. Bukan berarti wajib bisa bahasa negara tuan rumah. Saya sendiri nggak bisa Bahasa Rusia dan Arab, lho. Selama bertugas, Bahasa Inggris menjadi bahasa pemersatu kami. Tapi tentu karena saya tinggal di negara tersebut untuk jangka waktu yang cukup lama, saya jadi belajar kosakata sederhana yang membantu saya untuk lebih mudah menjalin pertemanan karena mungkin ketika saya ucapkan terdengar lucu, itu menjadi hal yang menghibur. Kalau ada kesulitan komunikasi, kami selalu bisa mengandalkan aplikasi penerjemah atau meminta tolong langsung ke relawan lokal yang menguasai, baik bahasa ibu mereka dan bahasa Inggris itu sendiri.

Apa tantangan terbesar yang pernah Mita alami sebagai volunteer di Piala Dunia dan bagaimana cara Mita mengatasinya?

Sebagai tenaga bantu, kadang ada saja yang menganggap remeh fungsi relawan. Tapi jangan salah sangka ya, program relawan FIFA itu sendiri sangat menghargai kami para relawan. Tidak bisa dipungkiri, di luar program relawan FIFA ada yang tetap menganggap kami kelas bawah. Jadi ketika saya butuh bantuan untuk menyelesaikan masalah, kadang mereka memandang sebelah mata.

Saya pernah didatangi dua orang penonton Hongkong berusia 83 tahun, tiket mereka adalah tiket hadiah yang kursinya ada di level 7 tanpa akses lift, sedangkan mereka berdua jalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat. Kalau kasus begini, solusinya adalah mencari tiket pangganti di level lebih rendah yang ada lift-nya. Dua manajer konter tiket menolak penukaran tiket saya, salah satu dari mereka bahkan berkata “Kalau mereka mau menukar tiket, mereka harus antre seperti yang lain,” bebernya. Tidak masuk akal, antrean begitu mengular dan dua penonton ini sudah sepuh. Manajer lain menyarankan saya untuk tidak terlalu berusaha keras karena saya hanya sekedar relawan.

Saya nggak menyerah. Saya mau memastikan kedua penonton lansia ini bisa menyaksikan pertandingan, karena mungkin 4 tahun lagi mereka sudah tidak sekuat sekarang, atau mungkin sudah tidak ada. Saya pun nekat mencoba ke konter lain sampai akhirnya permintaan saya dikabulkan.

Kendala juga bisa datang dari penonton itu sendiri. Banyak yang mencoba cari celah untuk masuk ke stadion tanpa tiket, dan mereka tidak segan-segan berteriak di muka saya ngotot bahwa mereka harus nonton karena yang bertanding adalah negaranya. Kalo untuk ini, saya sih cukup bilang maaf dan senyum saja. Kalo dia bertindak lebih jauh, ada sekuriti yang siap menjalankan tugasnya.

Bagaimana Mita membantu peserta dan penggemar dari luar negeri yang tidak berbicara bahasa yang sama dengan Mita?

Salah satu tujuan menjadi relawan adalah untuk ‘deliver amazing to the tournament’. Apapun masalahnya, kita memang harus membantu sepenuh hati. Berkaitan dengan kendala bahasa dengan penonton, program relawan FIFA untuk Piala Dunia berisi beragam relawan dari berbagai negara dan bahasa. Sehingga, pasti dalam satu tim ada saja yang bisa berbahasa lain selain Bahasa Inggris, jadi kami tau harus ke siapa kami meminta tolong. Misalnya nggak ada, bahasa tubuh dan aplikasi penerjemah selalu sukses mengalahkan kendala bahasa tersebut.

Apa yang Mita pelajari sebagai volunteer FIFA yang dapat membantu di kehidupan sehari-hari Mita?

Banyak sekali sebenarnya kalau dijabarkan satu-satu. Namun karena fokus utama saya adalah penonton dengan beragam kelakuan, saya banyak belajar tentang kesabaran, menjadi pendengar yang baik, meminta maaf, menunjukkan empati dengan nada tenang, menggunakan bahasa yang positif, dan paling penting, nggak diambil hati kalau ada penonton yang bersikap tidak sopan. Tapi jujur, itu semua tidak mengurangi keseruan. Saya menganggap memang bagian dari pekerjaan.

Mengambil insiatif juga krusial. Saya belajar jeli melihat kondisi. Mana yang nampaknya butuh bantuan, mulai dari terlihat bingung mencari pintu masuk, atau hal sepele seperti mengambil foto yang keren untuk penonton yang datang sendiri. Sebisa mungkin saya tidak menunggu bola datang, tapi saya yang kejar.

Untuk seseorang yang usianya tidak muda lagi, menjadi relawan FIFA membuat saya merasa lebih berdaya. Saya jadi sadar ternyata saya masih bisa melakukan hal baru dan berbeda dari yang selama ini rutin saya lakukan.

Apa yang Mita lakukan untuk membantu membuat pengalaman Piala Dunia menjadi lebih baik untuk penggemar dan peserta?

Saya selalu mengingatkan diri sendiri kalau sebagai relawan, saya adalah salah satu wajah dan nadi dari turnamen. Orang yang didatangi penonton ketika ada kesulitan, orang yang menjadi luapan kekesalan ketika ada masalah. Maka saya selalu berusaha untuk tetap antusias, berkomitmen, bermotivasi, bekerjasa sama dalam tim dan terpenting memberi bantuan terbaik dan maksimal dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan.

Untuk mereka yang ingin menjadi volunteer FIFA, pesan apa yang ingin Mita sampaikan?

Sejatinya, menjadi seorang relawan adalah tentang membantu sesama. Menjadi relawan FIFA, juga seperti itu. Kita ada untuk memberi pertolongan, baik besar ataupun kecil kepada mereka yang datang ke turnamen dan ini akan membawa kebahagiaan tersendiri. Selama sebulan, kita akan bertemu dengan orang dari segala penjuru dunia, baik warga lokal, penonton, teman kerja, bahkan orang terkenal. Saya sempat bertemu David Beckham dan foto bareng di Qatar.

Kesempatan kita untuk menambah pertemanan, belajar budaya baru, terbuka luas. Jadi, meski pekerjaan ini tidak dibayar, terlepas dari nama besar FIFA itu sendiri, percayalah, pengalaman yang didapat pun tidak ternilai karena kita akan banyak belajar hal baru yang mungkin tidak bisa kita temui di kehidupan atau pekerjaan sehari-hari.

Siapa tau, pengalaman tersebut akan membawa kita ke pengalaman menarik lainnya. Seperti saya yang sepulang dari Piala Dunia Qatar 2022, ditawari kesempatan untuk menjadi Pioneer Volunteer yaitu relawan yang bekerja langsung untuk tim rekrutmen. Mewawancarai kandidat-kandidat relawan untuk FIFA U-20 World Cup 2023 yang akan digelar Mei sampai Juni nanti di 6 kota besar Indonesia seperti Jakarta, Palembang, Solo, Surabaya, Bandung, dan Bali.

Jadi, apa kalian siap untuk mendaftar sebagai relawan FIFA untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko? Atau mungkin salah satu yang mendaftar untuk Piala Dunia U-20 Indonesia 2023? Semoga kalian juga merasakan keseruan yang sama seperti yang didapatkan Mita, ya! (AY/KW)

Editor: Yuliandri Kusuma Wardani

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pojok Banua TV

Infografis

IMG-20221229-WA0030
1. Infografis sosmed 10 penyakit
IMG-20221227-WA0005
IMG-20221228-WA0020
IMG-20221225-WA0006
TIPS AMANKAN DATA
PENJUALAN ROKOK BATANGAN
2. Infografis sosmed 10 penyakit

Member JMSI

Network

LAINNYA